Review Sistem Kliring dan Call Money

Definisi Kliring

Dewasa ini, di era globalisasi, masyarakat dituntut semakin cepat dan praktis dalam melaksanakan semua kegiatannya. Kegiatan manusia yang akan saya tuliskan kali ini adalah kecepatan transaksi dalam melakukan pengiriman uang atau yang disebut juga Kliring. Kliring adalah suatu cara melakukan transaksi berkirim uang dengan cara mengurangkan/menambahkan saldo rekening suatu bank di BI untuk memudahkan dan memperlancar sistem pembayaran suatu transaksi. Kliring diharapkan mengurangi pembayaran transaksi dengan menggunakan uang tunai atau surat berharga.

Pada paper/tulisan saya kali ini, saya mereview Sistem Kliring dengan berdasar pada jurnal/skripsi sebagai dasar teori dalam penulisan paper saya kali ini. Berikut definisi Kliring itu sendiri menurut para ahli :

  • Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 1/3/PBI/1999 perihal Penyelenggaraan Kliring Lokal dan Penyelesaian Akhir Transaksi Pembayaran Atas Hasil Kliring Lokal dalam Desi (2010), Kliring adalah pertukarn warkat atau data keuangan elektronik antarbank (DKE), baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.
  • Menurut Kasmir (2010:151) dalam Desi (2010), mendefinisikan Kliring sebagai jasa penyelesaian hutang-piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring.

Kliring itu sendiri hanya sebuah sistem dan butuh sebuah lembaga untuk menjadi wadah untuk mengatur semua lalu lintas transaksi yang terjadi. Definisi Lembaga Kliring adalah tempat berkumpulnya semua anggota perwakilan dari bank anggota kliring yang ditugaskan untuk melakukan perhitungan, pelunasan dan pertukaran warkat-warkat kliring. Lembaga itu sendiri di Indonesia adalah Bank Indonesia.

 Tujuan Kliring

Seperti yang kita ketahui, Kliring itu sendiri bertujuan untuk memudahkan transaksi manusia dalam melakukan transaksi pembayaran, baik antarbank maupun antar nasabah didalam negeri, maupun luar negeri. Menurut Desi (2010), berikut tujuan kliring antara lain :

  • Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral antar bank.
  • Agar perhitungan penyelesaian hutang pituang dapat dilaksanakan lebih mudah, aman dan efisien
  • Sebagai salah satu pelayanan bank kepada nasabahnya, terutama dalam hal keamanan dan biaya yang dikeluarkan.

Mekanisme Kliring

            Pada setiap negara, terjadi tranksaksi keuangan setiap saat guna memudahkan aktivitas manusia dalam hal pembayaran. Setiap negara mempunyai mekanisme kliring yang berbeda-beda tergantung dari Kebijakan pada bank sentralnya, namun pada dasarnya semua kliring melalui mekanisme seperti gambar dibawah ini :

kliring

Sistem Kliring Elektronik

 

Penjelasan dari gambar diatas adalah :

Pada 01 Januari 2014, Pak E mempunyai Giro pada Bank A sebesar Rp 120.000.000 dan Pak U mempunyai tabungan pada Bank X sebesar Rp 40.000.000. Lalu pada tanggal 15 januari 2014, Pak E akan membeli suatu barang berupa mesin pada Pak U senilai Rp 100.000.000. Pak E memberikan Cek kepada Pak U sebagai Alat Pembayaran. Setelah menerima pembayaran berupa cek dari Pak E, Pak U mencairkan Cek tersebut pada Bank X. Mengapa Pak E dapat mencairkan cek tersebut ke Bank X? padahal Cek tersebut diberikan dari Pak E dari Bank A. Disitulah sistem kliring dibentuk. Kliring dibentuk untuk memudahkan transaksi pembayaran dengan menggunakan cek/tabungan tanpa harus mencairkan cek tersebut di bank yang mengeluarkan cek tersebut.

Pada tanggal 20 Januari 2014, Pak U mencairkan Cek tersebut di Bank X. Pada hari yang sama, Bank X menverikasi cek yang dikeluarkan Bank A apakah cek tersebut dapat diuangkan atau tidak dengan cara menanyakan keabsahan cek tersebut kepada Bank A. Setelah cek tersebut diverifikasi oleh bank X, maka anggota perwakilan dari Bank X menyerahkan warkat kliring kepada Bank Indonesia dan anggota perwakilan dari Bank A akan melunasi warkat kliring tersebut. Jika cek tersebut dapat dicairkan (Cek Memenuhi Kecukupan Dana), Pada saat itu  juga, Bank Indonesia mengurangi Saldo Rekening Koran Bank A dan menambahkan Saldo Rekening Koran Bank X sebesar Rp 100.000.000. Berikut jurnal yang dibuat oleh masing-masing bank dalam transaksi tersebut :

Bank A

Giro Pak E      Rp 100.000.000

Rekening Koran Bank A di Bank Indonesia     Rp 100.000.000

 

Bank Indonesia

Rekening Koran Bank X        Rp 100.000.000

Rekening Koran Bank A       Rp 100.000.000

 

Bank X

Rekening Koran Bank X di Bank Indonesia              Rp 100.000.000

Tabungan Pak U                                                         Rp 100.000.000

 

Jurnal tersebut akan berlaku kebalikan jika terjadi transaksi Pak U yang mengirimkan sejumlah uang dari tabungannya kepada Pak E. Namun, akan terjadi hal yang berbeda jika cek tersebut tidak cukup dana (Net Sufficient Cheque), di ilustrasikan sebagai berikut :

Pada tanggal 01 Februari 2014, Pak U mengirimkan sejumlah uang berjumlah Rp 50.000.000 kepada Pak E sebagai pembayaran atas Sewa Gedung yang dimiliki Pak E. Pada saat itu pula, terjadi kliring dari Bank X kepada Bank A yang diakibatkan transaksi yang dilaku          kan Pak U. Namun pada Keesokan harinya, Pak E ternyata belum menerima pembayaran atas uang Sewa Gedung tersebut, karena ternyata cek tersebut tidak cukup dana (cek kosong). Jumlah saldo rekening Pak U pada Bank X sebesar Rp 40.000.000. Jadi terjadi kekurangan dana sebesar Rp 10.000.000 apabila nasabah tersebut ingin mencairkan dana tersebut.

Artinya, Pak E akan mendapatkan pembayarannya hanya sebesar Rp 40.000.000 dari Bank X, yang menyebabkan berkurangnya saldo rekening Koran pada Bank X sebesar Rp 40.000.000 yang mengakibatkan Bank X tidak memiliki Saldo Cadangan Deposit pada saldo Rekening Koran di Bank Indonesia. Jika Bank X tidak dapat memenuhi Saldo Cadangan Deposit minimum sebesar 2% atau sebesar Rp 1.000.000 (2% x Rp 50.000.000), maka Bank X itu akan mengalami Kekalahan Kliring pada hari itu yang jika terjadi terus-menerus akan mengakibatkan bank X dapat dilikuidasi.

 

Berbicara tentang Call of Money.

Menyambung kejadian tadi yang menyangkut Kekalahan Kliring Bank X, akan berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik oleh Bank X itu sendiri. Bank X akan dilikuidasi jika hal itu terus terulang. Demi menjaga kredibilitas dan likuiditas bank itu sendiri, maka diciptakanlah sistem Call Money yang akan membantu bank-bank seperti Bank X agar tidak harus dilikuidasi oleh Bank Indonesia. Pertanyaan yang muncul adalah apa itu Call Money? Pada saat apa terjadi Call Money dan bagaimana mekanisme yang terjadi? Mari kita simak review dibawah ini.

Kali ini saya juga akan mereview sedikit mengenai definisi dan dalam kondisi apa call money dapat dilakukan. Dasar teori saya adalah jurnal yang berjudul “Kegiatan Call Money Sebagai Salah Satu Alternatif Alokasi Dana Dalam Pasar Uang dan Pengaruhnya Terhadap Profitabilitas Pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Bandung.”

Definisi Call Money menurut Eka Octaviany (1999) adalah kegiatan pinjam-meminjam dana antar bank antar instansi dalam jangka pendek. Sedangkan definisi lainnya mengenai Call Money adalah sebuah kontrak pinjaman yang secara otomatis diperbarui setiap hari kecuali pemberi pinjaman atau peminjam menyatakan pengharapan pengembalian uang dalam waktu dekat. Jadi saya rangkum definisikan bahwa Call Money adalah kegiatan pinjam-meminjam dana antar bank antar instansi dalam jangka pendek yang dilakukan oleh bank yang kalah kliring dengan bank yang memenangkan kliring pada hari tersebut dan si peminjam dana (Bank Menang Kliring) akan mengharapkan pengembalian dana ditambah Bunga yang terjadi hanya dihitung dalam 1 x 24Jam.

Berkaitan dengan kasus kliring pada soal tadi, Bank X sebagai Pihak yang Kalah Kliring yang diumumkan oleh Bank Indonesia harus segera mengatasi kekurangan Saldo Cadangan Deposit Minimun. Call Money dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Mekanisme Call Money itu sendiri adalah pada saat penutupan aktivitas semua bank, pada malam hari terjadi pertukaran warkat/kliring dari Bank X kepada Bank A. Setelah melunasi cek Pak E, pada saat itu juga Bank X mengalami Kalah Kliring dan pada saat itu juga Bank A Menang dalam Kliring.

Pada saat Bank X mengalami Kalah Kliring hari itu, Bank X dituntut oleh Bank Indonesia untuk memenuhi Saldo Rekening Deposit Minimum / Giro Wajib Minimum pada hari itu sebesar Rp 1.000.000. Sedangkan Bank X hanya memiliki Saldo Rekening Deposit Minimum / Giro Wajib Minimum Rp 700.000. Maka pada saat itu, Bank X harus meminjam uang sebesar Rp 300.000 pada Bank yang sudah memenangkan Kliring pada hari itu yaitu Bank A. Kejadian bank X yang meminjam dana pada Bank A disebut dengan Call Money. Pada kasus ini, Bank A meminjamkan dana tersebut kepada Bank X dengan menetapkan bunga sebagai keuntungan dari meminjamkan dana tersebut. Bunga dalam Call Money itu sendiri tergantung kebijakan Bank yang meminjamkan dana tersebut.

Daftar Pustaka

Desi Susilowati. 2010. Prosedur Pelaksanaan Kliring Dalam Lalu Lintas Pembayaran Giral Antar Bank DI Transaction Processing Unit PT. Bank Tabungan Negara ( Persero ) Cabang Surakarta. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

 

Eka Octaviany Madjid. 1999. Kegiatan Call Money Sebagai Salah Satu Alternatif Alokasi Dana   dalam Pasar Uang dan Pengaruhnya terhadap Profitabilitas pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Bandung. Bandung: Indonesian Germany Institute.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s