Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dan Penggabungan Usaha Bank (Review Pertemuan Ke 3)

Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas mengenai penilaian kesehatan bank dan penggabungan usaha bank. Berbicara mengenai penilaian tingkat kesehatan bank, terlebih dahulu saya akan membahas mengenai definisi tingkat kesehatan bank.  Definisi Tingkat Kesehatan Bank menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu Bank melalui Penilaian Kuantitatif dan atau Penilaian Kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabiitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar.  Menelisik mengenai definisi Tingkat Kesehatan Bank, maka pasti yang ada dalam benak kita adalah “Bagaimana Cara Mengetahui Tingkat Kesehatan Suatu Bank?” dan “Aspek-aspek apa saja yang menentukan Tingkat Kesehatan Suatu Bank?”.

Menjawab pertanyaan pada alinea sebelumnya, cara kita mengetahui tingkat kesehatan suatu bank adalah dengan melakukan penilaian terhadap suatu bank dengan menggunakan faktor-faktor dibawah ini:

1. Permodalan (capital);

  • meliputi kecukupan, komposisi, dan proyeksi (trend ke depan) permodalan serta kemampuan permodalan Bank dalam mengcover assets bermasalah.Kemampuan Bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan, rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha, akses kepada sumber permodalan, dan kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan bank.

2. Kualitas aset (Assets quality);Kualitas aktiva produktif,

  • konsentrasi eskposur risiko kredit, perkembangan aktiva bermasalah, dan kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP).
  • Kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem kaji ulang (review) internal, sistem dokumentasi dan kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.

3. Manajemen (management);

  • Kualitas manajemen umum dan penerapan manajemen risiko;
  • Kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku dan komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.

4. Rentabilitas (earnings);

  • Pencapaian return on assets (ROA), return on equity (ROE), net interest margin (NIM), dan tingkat efisiensi Bank;
  • Perkembangan laba operasional, diversifikasi pendapatan, penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya, dan prospek laba operasional.

5. Likuiditas (liquidity); dan

  • Rasio aktiva/pasiva likuid, potensi maturity mismatch, kondisi Loan to Deposit Ratio (LDR), proyeksi cash flow, dan konsentrasi pendanaan;
  • Kecukupan kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management/ ALMA), akses pada sumber pendanaan, dan stabilitas pendanaan.

6. Sensivitas terhadap risiko pasar (sensitivity to market risk)

  • Kemampuan modal bank dalam mengcover potensi kerugian sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga dan nilai tukar;
  • Kecukupan penerapan manajemen risiko pasar.

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Pasal 4, Aspek-aspek yang sudah tercantum diatas adalah aspek-aspek yang harus dilakukan suatu instansi/lembaga independen dalam menilai tingkat kesehatan bank. BI mendesain tata cara penilaian bank umum menjadi RGEC dan tetapkan dalam SK No. 6/10/PBI/2004.

CAMELS vs RGEC

Pada kebijakan BI sebelumnya, cara penilaian kesehatan bank menggunakan metoda CAMELS (Capital, Asset Quality, Management, Earning Power, Liquidity, dan Sensitive to Market Risk). Metode CAMELS itu sendiri pertama kali diperkenalkan pada tanggal 12 April 2004, dan kemudian digantikan oleh cara penilaian tingkat kesehatan bank umum yang baru, yaitu RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance (GCG), Earnings, dan Capital. Model ini mewajibkan Bank Umum untuk melakukan Penilaian (Self assesment) Tingkat Kesehatan Bank itu sendiri dengan menggunakan pendekatan Risiko (Risk-Based Bank Rating/RBBR) baik secara individual maupun konsolidasi.

Dari kedua versi metode cara penilaian tingkat kesehatan bank umum, maka kita akan mendapatkan perbedaan yang cukup signifikan adalah dari tata cara penilaian predikat 1 sampai predikat 5 untuk tingkat kesehatan bank itu sendiri. Sekedar info, Peringkat 1 adalah Peringkat yang paling baik yang disematkan kepada bank umum yang menunjukan bahwa bank tersebut sangat sehat. Sedangkan, Peringkat 5 adalah peringkat yang paling buruk dalam segi kesehatan bank umumnya.  Berikut gambar dibawah ini yang menjelaskan bagaimana RGEC menilai Tingkat Kesehatan Bank Umum :

Image

Tabel ini menjelaskan bahwa walaupun sebuah perusahaan memiliki resiko investasi sangat kecil tapi tidak ada penanganan dari resiko investasi maka kualitas penerapan manajemen resikonya menjadi besar, yaitu menempati urutan peringkat ke 3. Sebaliknya, bila sebuah perusahaan memiliki resiko investasi yang cukup tinggi namun manajemen terhadap penanganan resiko tersebut sangat baik, maka akan menurunkan resiko dari peringkat 5 menjadi peringkat 3.

Penggabungan Bank.

Terkadang suatu bank mengalami masalah-masalah keuangan yang membuat bank tersebut harus melikuidasi aset yang dimilikinya dan menyebabkan kerugian bagi bank tersebut. Namun, bank yang bisa dikatakan pailit sekalipun, tidak dapat langsung menutup bank tersebut seperti suatu perusahaan perseroan, karena bank adalah lembaga yang dipercaya menghimpun dana masyarakat. Jadi harus ada prosedur untuk membuat bank tersebut sehat kembali, yaitu dengan cara menggabungkan suatu bank dengan bank lain.

Jenis-jenis penggabungan suatu bank yang dapat dilakukan di Indonesia :

  1. Merger

Merger adalah penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu bank yang ikut merger dan membubarkan bank-bank lainnya tanpa melikuidasinya terlebih dahulu. Sistem Merger ini dilakukan dengan cara menggabungkan seluruh saham bank lainnya yang ikut bergabung menjadi satu dengan saham bank yang dipilih untuk dipertahankan. Berikut contoh bank yang melakukan sistem merger : misalkan suatu bank bernama Pandawa akan melakukan merger dengan Bank Mawar, mereka akhirnya menyepakati bahwa bank mawar melebur dan berganti nama bank pandawa

  1. Konsolidasi

adalah penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara mendirikan bank baru dan membubarkan bank-bank yang ikut konsolidasi tersebut tanpa melikuidasi terlebih dahulu. Sistem Konsolidasi mmenjadikan suatu bank dengan nama baru dan juga hanya memiliki satu saham dengan nama bank yang baru tersebut. Berikut ini bank yang melakukan konsolidasi : misalkan Bank Pandawa yang tadi disebutkan disaat akan melakukan konsolidasi dengan Bank Mawar, maka mereka akan bergabung dan mengganti nama bank yang telah mereka sepakati yaitu Bank Teguh Sejahtera.

  1. Akuisisi

Merupakan pengambilalihan kepemilikan suatu bank yang berakibat beralihnya pengendalian terhadap bank. Sistem Akuisisi biasanya tidak mengubah nama dari bank yang diakuisisinya, hanya merubah kepemilikan dari bank tersebut. Berikut contoh bank yang melakukan akuisisi : misalkan Bank Pandawa melakukan akuisisi dengan Bank Mawar maka Bank Pandawa tidak akan mengubah nama banknya dan kepemilikan sahamnya, namun kepemilikan Bank Mawar akan berpindah ke Bank Pandawa.

Sumber :

  • Surat Edaran Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/PBI/2004 Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum
  • Buku Dasar-Dasar Perbankan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s