Bersyukur dalam setiap keadaan

Halo semua, nama saya Eka Vidiaztuti Untari. Kalian bisa panggil saya vidi. Dulu sewaktu saya SMA, saya sering dipanggil dengan panggilan eka, namun saya lebih nyaman dengan panggilan saya yang sekarang. Saya Mahasiswa Akuntansi Universitas Gunadarma. Sebelumnya, cerita ini saya ceritakan selain untuk memenuhi tugas SoftSkill yang diberikan oleh Ibu Ekaning, sekaligus saya juga ingin membagi cerita indahnya bersyukur yang saya rasakan hingga sekarang.

Awal kisah saya mulai dari SMA, saya pertama kali masuk SMA yang cukup favorit di Kota Depok dengan nilai NEM yang tidak terlalu bagus. Saya sangat bersyukur sekali saya bisa masuk SMA tersebut sebab kalo tidak, saya bisa dapet sekolah yang cukup jauh dari rumah. Pada waktu masuk SMA, saya cukup banyak memliki teman yang tak terlupakan dan sering terjadi banyak perselisihan juga. Namun, itu semua membangun saya untuk bersosialisasi dengan orang lebih baik lagi.

Pada saat SMA kelas 1, saya tidak cukup banyak berkiprah dikelas karena saya masuk kelas unggulan. Anak-anak dikelas saya pun cukup pintar dalam bidang akademik sehingga saya hanya mendapat rangking 15 besar saja. Pada saat penjurusan, saya memilih jurusan IPA. Padahal, itu bertolak belakang dengan mimpi saya pada awalnya yang ingin masuk jurusan Ilmu Ekonomi-Universitas Indonesia. Saya mengambil jurusan tersebut karena tidak ingin bertemu dengan pelajaran Sosiologi dan Geografi.

Pada awal kelas 2 SMA sampai kelas 3 SMA, saya selalu mendapat rangking 5 besar. Saya merasa selalu ingin jadi juara. Saya mulai beralih memilih jurusan Teknik Kimia-Universitas Indonesia sebab saya menyukai Matematika dan Kimia. Saya seakan lupa tentang cita-cita saya pada saat kelas 1.

Karena pencapaian prestasi yang saya raih, saya akhirnya mendapat SNMPTN Undangan. Jujur saya mengharapkan jalan itu untuk masuk ke PTN sebab itu jerih payah murni yang saya hasilkan untuk masuk ke PTN. Saya mengirimkan berkas berkas saya secara online untuk mendaftar dan menunggu sampai pengumuman itu tiba.

Setelah pengumuman itu tiba, saya dinyatakan tidak lolos. Saya teramat kecewa. Padahal, saya sudah menganggap bahwa saya akan keterima dengan nilai rata-rata 88. Saya sempat terpuruk dan putus asa. Saya sempat menyalahkan tuhan atas kejadian ini. Saya tidak ada selera makan berhari-hari hanya karena kejadian demikian. Teman saya berpendapat, “mungkin nilai hasil UN mu kurang sehingga kamu tidak lolos”. Memang saya akhirnya berpikir demikian, sebab pada saat un tersebut, saya menderita flu berat dan kelelahan yang menjadikan saya agak tidak konsen dalam menjalankan UN pada waktu itu. Setelah kejadian itu, saya pun disemangati oleh keluarga, keluarga besar, banyak sahabat dan teman yang sangat mendukung saya agar saya bisa tegar dan mencoba kesempatan lain yaitu SNMPTN Tulis.

Pada saat  SNMPTN Tulis, aku mengerjakan soal sebaik-baiknya walaupun pada saat hari pelaksanaannya aku sedikit terlambat. Aku cukup tegang menghadapinya walaupun aku udah berusaha semaksimal mungkin dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aku takut untuk kali ini aku menghadapi kegagalan serupa sehingga itu cukup menggangu mentalku. Setelah melakukan ujian tersebut, aku pulang dengan hati lega namun cemas juga menantikan hasilnya.

Pada saat pengumuman tersebut, aku sekali lagi tidak lolos dalam seleksi tersebut. Hati rasanya sangat sakit kembali setelah mendengar hal demikian. Tidak bisa digambarkan betapa saya sangat sedih pada saat itu. Hal itu kembali berulang pada saat saya mengikuti UM Undip, saya mengalami kegagalan serupa. Namun setelah saat itu, saya mengalami saat dimana saya bersyukur kepada Allah karena semua terjadi karena saya masih dapat tempat untuk kuliah. Akhirnya saya pun berkuliah di Universitas Gunadarma. Pada awalnya, saya mengakui bahwa saya menjadikan Universitas Gunadarma hanya sebagai cadangan tempat berkuliah. Pada awalnya pun saya sedikit tidak rela untuk masuk Universitas tersebut sebab saya tidak ingin saja masuk PTS. Mahal menjadi alasan yang saya dapat dari orang.

Tapi setelah saya menetapkan hati untuk tetap masuk Universitas Gunadarma, saya malah mencintai suasana didalamnya. Tidak seburuk pandangan saya sebelumnya. Saya bertemu banyak orang yang nasibnya seperti saya yang ternyata juga mengakui hal yang sama. Saya bersyukur saya dapat berkuliah di PTS nomor 1 di Indonesia.

Setelah saya berkuliah, Saya sangat senang pada saat saya mendapatkan beasiswa karena tidak sembarang orang mendapatkan itu. Itu juga salah satu berkat Allah yang diberikan kepada saya. Terlebih, saya sangat menikmati perkuliahan didalam kelas karena saya mendapatkan teman-teman yang luar biasa yang mendukung saya untuk tetap terus maju dan berprestasi di Universitas Gunadarma.

Bersyukur adalah motto hidup saya sekarang..

Kita boleh mencita-citakan sesuatu dan berusaha mencapainya, tapi kita harus ikhlas dan bersyukur apabila Allah SWT berkata lain. Saya sanggat bersyukur Allah SWT memberikan tempat yang lebih baik sekarang. .

Itulah sedikit cerita saya tentang keindahan bersyukur yang saya rasakan sendiri membuat hati lebih tenang untuk menjalani hidup..

Terima kasih sebelumnya apabila telah membaca cerita ini dan menginsipirasi anda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s