Optimalisasi dan Strategi dalam Memenuhi Likuiditas Perbankan

Dewasa ini, setiap negara harus memiliki sistem perbankan untuk mengatur dan memajukan perekonomian negara tersebut. Sistem perbankan itu sendiri dibilang mumpuni, jika Bank Sentral dan Bank Umum yang ada di negara itu sendiri mempunyai akreditasi dan “image” baik di masyarakat. Menurut orang awam seperti saya, Akreditasi dan “Image” baik yang dibuat oleh Bank tercermin dengan banyaknya nasabah yang menyimpan uang mereka, likuiditas bank itu sendiri, serta banyaknya orang yang meminjam uang kepada bank tersebut karena penyaluran kredit yang mudah.

Dalam hal ini, Bank sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat, berperan aktif dalam mengatur peredaran uang di masyarakat. Seperti review saya sebelumnya mengenai bank, tugas bank itu sendiri bukan hanya menghimpun dana masyarakat, tetapi juga harus menyalurkan uang kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Fungsi penyaluran kredit selain membantu sebagian orang untuk berinvestasi/ekspansi, tetapi disisi lain bank juga berpikir jika ia mengeluarkan kredit, maka bank itu sendiri akan mendapatkan keuntungan dalam bentuk bunga (Interest Spread Income).

Berbicara tentang penyaluran kredit, LDR harus diperhitungkan oleh suatu bank. LDR atau Loan to Deposit Ratio adalah standar yang digunakan untuk mengukur banyaknya kredit yang dapat diberikan kepada masyarakat serta mengukur likuiditas bank tersebut. Ini juga akan berhubungan dengan pilihan setiap bank terhadap penyaluran kredit yang diterapkannya, berikut sifat bank terhadap penyaluran kredit kepada masyarakat :

  1. Konservatif

Bank akan cenderung Konservatif jika cadangan deposit/capital bank itu sendiri rendah sehingga penyaluran kredit terhadap masyarakat dibatasi, sehingga menyebabkan LDR rendah.

 

  1. Moderate

Bank akan cenderung Moderate jika cadangan deposit/capital bank itu sendiri seimbang dengan penyaluran kreditnya terhadap masyarakat. Ilustrasi nilai LDR moderate berkisar 40%-60% sehingga penyaluran kredit terhadap masyarakat akan seimbang dengan cadangan deposit bank tersebut.

 

  1. Ekspansif

Bank akan cenderung Ekspansif jika cadangan deposit/capital bank itu besar dan disusul dengan kemampuan penyaluran kredit yang besar juga kepada masyarakat. Penyaluran kredit yang besar memicu nilai LDR yang semakin besar, namun menyebabkan pula likuiditas bank tersebut berkurang. Kemampuan Bank dalam memberikan kredit dapat  dengan ekspansif dapat mencapai 110%.

Setiap pilihan bank yang dilakukan dalam penyaluran kredit, apakah ingin Konservatif, Moderate atau Ekspansif akan mempengaruhi resiko dan pendapatan bank itu sendiri. Seperti berinvestasi pada pasar modal, semakin besar penyaluran kredit yang diberikan kepada masyarakat, semakin tinggi pula pendapatan bunga yang diperoleh dan resiko tidak kembalinya dana tersebut (High Risk, High Return). Berbicara tentang pendapatan yang besar oleh bank, sebagian orang hanya menganggap bahwa pendapatan bank hanya didapatkan dari pendapatan bunga yang diperoleh sebagai keuntungan dari pemberian kredit, tapi kenyataannya pendapatan yang diperoleh bank diperoleh juga dari jasa-jasa bank yang dilakukan kepada masyarakat yang akan menimbulkan berupa uang balas jasa dari nasabah (Fee Based Income). Berikut ini macam-macam Fee Based Income:

  • Kliring
  • Pertukaran Valuta Asing (Valas)
  • Transfer antarbank
  • Safe Deposit Box
  • Inkaso
  • Letter of credit & Bilyet Giro

Macam-macam Fee Based Income disebut juga Dana Pihak Ketiga (DPK). Dari dua pos pendapatan bank yaitu Interest Spread Income Fee Based Income, bank harus mengoptimalisasi dan efisiensi kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan, dengan cara memperbesar pendapatan pos melalu dua pos tersebut dan meminimalisasi biaya yang dikeluarkan untuk operasional bank.

Jika bank ingin melakukan optimalisasi dari segi pendapatan, maka bank tersebut harus menambah jumlah DPK yang bank tersebut miliki. Menambah jumlah DPK pada suatu bank tidak semudah yang diperkirakan, karena ada cost yang besar dengan menambahkan fasilitas dan kemudahan bertransaksi dengan nasabah, yaitu Integrasi Data Base. Selain itu, ada cara lain yang dapat dilakukan bank agar pendapatannya bertambah, dengan cara menambah penyaluran kredit (Loan) harus tinggi, –> LDR Tinggi –> CAR Tinggi. Selain harus mengoptimalkan pendapatkan, bank juga harus memikirkan cara untuk melakukan efisiensi pada biaya mereka, berikut cara melakukan efisiensi biaya pada bank :

  1. Kegiatan Operasional.
  2. Human Resources.

Kejadian mengoptimalisasi dan melakukan efisiensi pada dalam memperoleh laba yang maksimal pada suatu bank disebut Productivity Paradoks.

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa setiap bank memiliki likuiditas yang baik. Likuiditas yang baik diukur dari LRR (Legal Reserve Requirement). Komponen dari LRR adalah RR dan ER yang membentuk satu instrument, menjadi Rekening Koran pada BI. Hal yang dapat terjadi pada sebuah bank yang menentukan kesiapan bank dalam menghadapi kejadian yang tak terduga (Rush) dalam perbankan:

rk koran

Untuk menghadapi kejadian seperti itu, pemerintah harus melakukan penyuluhan Risk Management terhadap bank agar mengetahui resiko kredit yang diberikan kepada nasabah.

Satu lagi femonena yang cukup mencengangkan dan membuat resah karena dapat mengkapitalisasi perekonomian di suatu negara, fenomena tersebut disebut Konglomerasi Perbankan

kp

 

 

Pada gambar diatas, terjadi skema Konglomerasi dalam Perbankan di indonesia, yang diawali dengan :

  1. Pada tahun 2014, suatu bank bernama “Siti Bank” berpikir untuk melakukan ekpansi dalam bidang industry keuangan dengan menciptakan beberapa perusahaan, salah satunya : PT X (Leasing). PT. X dalam bidang leasing ini didirikan agar bank dapat memperoleh Interest Spread Income secara utuh yang diperoleh dari usaha PT. X dalam hal meminjamkan barang untuk di sewakan dan menberikan bunga kepada si peminjam tersebut
  1. Setelah berdirinya PT. X, PT. X mulai merasa bahwa perusahaan tersebut harus mengembangkan sayapnya (Ekspansi) dengan membuat lembaga yang memberikan kredit pada masyarakat dalam pembelian kendaraan atau barang elektronik sangat menguntungkan. Akhirnya pada tahun 2014 juga, PT. X resmi mendirikan PT. SETRA yang akan saling bersinergi dengan PT. X  sebagai induk perusahaan untuk menawarkan pembelian kendaraan secara kredit,
  1. Setelah mendapatkan keuntungan signifikan dari pendapatan bunga (Interest Spread Income) dari penjualan kendaraan bermotor dengan kredit, maka secara tidak langsung PT. SERTA telah menyetorkan sejumlah Interest Spread Income kepada Siti Bank sehingga menambah capital bank tersebut.
  1. Setelah sekian lama mendirikan PT. X, ternyata diliat suatu kontrak perjanjian yang menguntungkan antara PT.X dengan PT. ZK karena PT.ZK selama ini mendapatkan pembayaran premi yang rutin dari PT. X untuk menjamin keselamatan asset PT.X dan memindahkan resiko penggantian jika ada kejadian tak terduga, seperti kecelakaan, kehilangan, dll. Sehingga Siti bank ingin mendapatkan keuntungan dari simbiosis mutualisme antara PT.X dengan PT. ZK dengan cara meminta secara halus kepada PT.ZK untuk menjual saham atau obligasi mereka, agar dapat dibeli oleh Siti Bank. Sehingga secara tidak langsung, Siti Bank juga ikut “memiliki” perusahaan PT. ZK.
  1. Pada alur sebelumnya, Siti Bank sudah mengoptimalisasi dan melakukan ekspansi demi menggenjot pendapatan perusahaan mereka. Pada alur ini juga, Siti Bank merasa bahwa akan terlalu beresiko jika nanti perusahaan-perusahaan yang ia miliki, mengalami kebangkrutan, sehingga menghabiskan capital bank untuk membayar semua hutang dan akan dilikuidasi oleh pemerintah. Maka Siti Bank berpikir untuk menjual sebagian saham yang dimiliki oleh banknya untuk dibeli oleh masyarakat, dengan cara menjual saham/obligasi di Bursa Saham. Cara ini dilakukan agar Siti Bank menjadi Perusahaan Terbuka sehingga tidak dapat dilikuidasi dan dibubarkan oleh Bank Indonesia.
  1. Pada suatu hari, PT. X kehilangan Asset perusahaan yang berupa motor, karena terjadinya kecelakaan, dan PT. X harus mengganti motor customer tersebut dengan yang baru. Pada saat itu, ternyata PT. X sudah mengestimasi akan terjadinya kejadian kecelakaan sewaktu-waktu, sehingga dia sudah memindahkan resiko penggantian dari motor yang mengalami kecelakaan kepada PT. ZK dengan uang premi yang dibayarkan PT.X sebesar 10.000 setiap bulan dalam jangka waktu 5 tahun, yang akan dijanjikan oleh PT.ZK akan mendapatkan uang penggantian sebesar RP 10.000.000.
  1. Setelah PT.ZK menerima klaim dari PT.X, ternyata PT. ZK hanya mampu membayar sejumlah Rp 2.000.000 setara dengan premi Rp 2000, sehingga dia bekerja sama lagi dengan PT. KL untuk melunasi tagihan klaim tersebut, dengan menjanjikan pembagian premi sebesar Rp 8000, maka PT. KL harus melunasi klaim PT.X sebesar Rp 8.000.000.
  1. Ternyata ditengah kesepakatan tersebut, PT. KL pun hanya sanggup membayar sebesar Rp 2.000.000 sehingga melimpahkan klaim tersebut kepada PT.OP yang akan membayar Rp 6.000.000 sehingga dapat melunasi klaim PT.X dan sebagai imbalannya PT.KL harus membagi premi yang mereka miliki sebesar Rp 6.000 kepada PT.OP. Kejadian ini disebut Retrocessi
  1. PT. OP ternyata tidak ingin melunasi klaim perusahaan PT. X dengan capitalnya sendiri, maka dibentuk 3 perusahaan, yaitu PT.OK, PT. LO, PT. MO yang bertugas mencari dana secept mungkin pada pasar modal.
  2.  Ketiga Perusahaan bentukan PT.OP akhirnya ikut dalam jual beli saham/obligasi di pasar saham yang sama tempatnya dengan saham Siti Bank, ketiga perusahaan tersebut berminat membeli Saham Siti Bank dengan total persentase keseluruhan sebesar 60%. Besarnya presentase kepemilikan saham tersebut, menjadikan Siti Bank secara tidak langsung “dimiliki” oleh PT.OP yang dapat mengatur kebijakan Siti Bank. Alur Ini semua disebut Konglomerasi Perbankan

 

Advertisements

Review Sistem Kliring dan Call Money

Definisi Kliring

Dewasa ini, di era globalisasi, masyarakat dituntut semakin cepat dan praktis dalam melaksanakan semua kegiatannya. Kegiatan manusia yang akan saya tuliskan kali ini adalah kecepatan transaksi dalam melakukan pengiriman uang atau yang disebut juga Kliring. Kliring adalah suatu cara melakukan transaksi berkirim uang dengan cara mengurangkan/menambahkan saldo rekening suatu bank di BI untuk memudahkan dan memperlancar sistem pembayaran suatu transaksi. Kliring diharapkan mengurangi pembayaran transaksi dengan menggunakan uang tunai atau surat berharga.

Pada paper/tulisan saya kali ini, saya mereview Sistem Kliring dengan berdasar pada jurnal/skripsi sebagai dasar teori dalam penulisan paper saya kali ini. Berikut definisi Kliring itu sendiri menurut para ahli :

  • Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 1/3/PBI/1999 perihal Penyelenggaraan Kliring Lokal dan Penyelesaian Akhir Transaksi Pembayaran Atas Hasil Kliring Lokal dalam Desi (2010), Kliring adalah pertukarn warkat atau data keuangan elektronik antarbank (DKE), baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.
  • Menurut Kasmir (2010:151) dalam Desi (2010), mendefinisikan Kliring sebagai jasa penyelesaian hutang-piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring.

Kliring itu sendiri hanya sebuah sistem dan butuh sebuah lembaga untuk menjadi wadah untuk mengatur semua lalu lintas transaksi yang terjadi. Definisi Lembaga Kliring adalah tempat berkumpulnya semua anggota perwakilan dari bank anggota kliring yang ditugaskan untuk melakukan perhitungan, pelunasan dan pertukaran warkat-warkat kliring. Lembaga itu sendiri di Indonesia adalah Bank Indonesia.

 Tujuan Kliring

Seperti yang kita ketahui, Kliring itu sendiri bertujuan untuk memudahkan transaksi manusia dalam melakukan transaksi pembayaran, baik antarbank maupun antar nasabah didalam negeri, maupun luar negeri. Menurut Desi (2010), berikut tujuan kliring antara lain :

  • Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral antar bank.
  • Agar perhitungan penyelesaian hutang pituang dapat dilaksanakan lebih mudah, aman dan efisien
  • Sebagai salah satu pelayanan bank kepada nasabahnya, terutama dalam hal keamanan dan biaya yang dikeluarkan.

Mekanisme Kliring

            Pada setiap negara, terjadi tranksaksi keuangan setiap saat guna memudahkan aktivitas manusia dalam hal pembayaran. Setiap negara mempunyai mekanisme kliring yang berbeda-beda tergantung dari Kebijakan pada bank sentralnya, namun pada dasarnya semua kliring melalui mekanisme seperti gambar dibawah ini :

kliring

Sistem Kliring Elektronik

 

Penjelasan dari gambar diatas adalah :

Pada 01 Januari 2014, Pak E mempunyai Giro pada Bank A sebesar Rp 120.000.000 dan Pak U mempunyai tabungan pada Bank X sebesar Rp 40.000.000. Lalu pada tanggal 15 januari 2014, Pak E akan membeli suatu barang berupa mesin pada Pak U senilai Rp 100.000.000. Pak E memberikan Cek kepada Pak U sebagai Alat Pembayaran. Setelah menerima pembayaran berupa cek dari Pak E, Pak U mencairkan Cek tersebut pada Bank X. Mengapa Pak E dapat mencairkan cek tersebut ke Bank X? padahal Cek tersebut diberikan dari Pak E dari Bank A. Disitulah sistem kliring dibentuk. Kliring dibentuk untuk memudahkan transaksi pembayaran dengan menggunakan cek/tabungan tanpa harus mencairkan cek tersebut di bank yang mengeluarkan cek tersebut.

Pada tanggal 20 Januari 2014, Pak U mencairkan Cek tersebut di Bank X. Pada hari yang sama, Bank X menverikasi cek yang dikeluarkan Bank A apakah cek tersebut dapat diuangkan atau tidak dengan cara menanyakan keabsahan cek tersebut kepada Bank A. Setelah cek tersebut diverifikasi oleh bank X, maka anggota perwakilan dari Bank X menyerahkan warkat kliring kepada Bank Indonesia dan anggota perwakilan dari Bank A akan melunasi warkat kliring tersebut. Jika cek tersebut dapat dicairkan (Cek Memenuhi Kecukupan Dana), Pada saat itu  juga, Bank Indonesia mengurangi Saldo Rekening Koran Bank A dan menambahkan Saldo Rekening Koran Bank X sebesar Rp 100.000.000. Berikut jurnal yang dibuat oleh masing-masing bank dalam transaksi tersebut :

Bank A

Giro Pak E      Rp 100.000.000

Rekening Koran Bank A di Bank Indonesia     Rp 100.000.000

 

Bank Indonesia

Rekening Koran Bank X        Rp 100.000.000

Rekening Koran Bank A       Rp 100.000.000

 

Bank X

Rekening Koran Bank X di Bank Indonesia              Rp 100.000.000

Tabungan Pak U                                                         Rp 100.000.000

 

Jurnal tersebut akan berlaku kebalikan jika terjadi transaksi Pak U yang mengirimkan sejumlah uang dari tabungannya kepada Pak E. Namun, akan terjadi hal yang berbeda jika cek tersebut tidak cukup dana (Net Sufficient Cheque), di ilustrasikan sebagai berikut :

Pada tanggal 01 Februari 2014, Pak U mengirimkan sejumlah uang berjumlah Rp 50.000.000 kepada Pak E sebagai pembayaran atas Sewa Gedung yang dimiliki Pak E. Pada saat itu pula, terjadi kliring dari Bank X kepada Bank A yang diakibatkan transaksi yang dilaku          kan Pak U. Namun pada Keesokan harinya, Pak E ternyata belum menerima pembayaran atas uang Sewa Gedung tersebut, karena ternyata cek tersebut tidak cukup dana (cek kosong). Jumlah saldo rekening Pak U pada Bank X sebesar Rp 40.000.000. Jadi terjadi kekurangan dana sebesar Rp 10.000.000 apabila nasabah tersebut ingin mencairkan dana tersebut.

Artinya, Pak E akan mendapatkan pembayarannya hanya sebesar Rp 40.000.000 dari Bank X, yang menyebabkan berkurangnya saldo rekening Koran pada Bank X sebesar Rp 40.000.000 yang mengakibatkan Bank X tidak memiliki Saldo Cadangan Deposit pada saldo Rekening Koran di Bank Indonesia. Jika Bank X tidak dapat memenuhi Saldo Cadangan Deposit minimum sebesar 2% atau sebesar Rp 1.000.000 (2% x Rp 50.000.000), maka Bank X itu akan mengalami Kekalahan Kliring pada hari itu yang jika terjadi terus-menerus akan mengakibatkan bank X dapat dilikuidasi.

 

Berbicara tentang Call of Money.

Menyambung kejadian tadi yang menyangkut Kekalahan Kliring Bank X, akan berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik oleh Bank X itu sendiri. Bank X akan dilikuidasi jika hal itu terus terulang. Demi menjaga kredibilitas dan likuiditas bank itu sendiri, maka diciptakanlah sistem Call Money yang akan membantu bank-bank seperti Bank X agar tidak harus dilikuidasi oleh Bank Indonesia. Pertanyaan yang muncul adalah apa itu Call Money? Pada saat apa terjadi Call Money dan bagaimana mekanisme yang terjadi? Mari kita simak review dibawah ini.

Kali ini saya juga akan mereview sedikit mengenai definisi dan dalam kondisi apa call money dapat dilakukan. Dasar teori saya adalah jurnal yang berjudul “Kegiatan Call Money Sebagai Salah Satu Alternatif Alokasi Dana Dalam Pasar Uang dan Pengaruhnya Terhadap Profitabilitas Pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Bandung.”

Definisi Call Money menurut Eka Octaviany (1999) adalah kegiatan pinjam-meminjam dana antar bank antar instansi dalam jangka pendek. Sedangkan definisi lainnya mengenai Call Money adalah sebuah kontrak pinjaman yang secara otomatis diperbarui setiap hari kecuali pemberi pinjaman atau peminjam menyatakan pengharapan pengembalian uang dalam waktu dekat. Jadi saya rangkum definisikan bahwa Call Money adalah kegiatan pinjam-meminjam dana antar bank antar instansi dalam jangka pendek yang dilakukan oleh bank yang kalah kliring dengan bank yang memenangkan kliring pada hari tersebut dan si peminjam dana (Bank Menang Kliring) akan mengharapkan pengembalian dana ditambah Bunga yang terjadi hanya dihitung dalam 1 x 24Jam.

Berkaitan dengan kasus kliring pada soal tadi, Bank X sebagai Pihak yang Kalah Kliring yang diumumkan oleh Bank Indonesia harus segera mengatasi kekurangan Saldo Cadangan Deposit Minimun. Call Money dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Mekanisme Call Money itu sendiri adalah pada saat penutupan aktivitas semua bank, pada malam hari terjadi pertukaran warkat/kliring dari Bank X kepada Bank A. Setelah melunasi cek Pak E, pada saat itu juga Bank X mengalami Kalah Kliring dan pada saat itu juga Bank A Menang dalam Kliring.

Pada saat Bank X mengalami Kalah Kliring hari itu, Bank X dituntut oleh Bank Indonesia untuk memenuhi Saldo Rekening Deposit Minimum / Giro Wajib Minimum pada hari itu sebesar Rp 1.000.000. Sedangkan Bank X hanya memiliki Saldo Rekening Deposit Minimum / Giro Wajib Minimum Rp 700.000. Maka pada saat itu, Bank X harus meminjam uang sebesar Rp 300.000 pada Bank yang sudah memenangkan Kliring pada hari itu yaitu Bank A. Kejadian bank X yang meminjam dana pada Bank A disebut dengan Call Money. Pada kasus ini, Bank A meminjamkan dana tersebut kepada Bank X dengan menetapkan bunga sebagai keuntungan dari meminjamkan dana tersebut. Bunga dalam Call Money itu sendiri tergantung kebijakan Bank yang meminjamkan dana tersebut.

Daftar Pustaka

Desi Susilowati. 2010. Prosedur Pelaksanaan Kliring Dalam Lalu Lintas Pembayaran Giral Antar Bank DI Transaction Processing Unit PT. Bank Tabungan Negara ( Persero ) Cabang Surakarta. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

 

Eka Octaviany Madjid. 1999. Kegiatan Call Money Sebagai Salah Satu Alternatif Alokasi Dana   dalam Pasar Uang dan Pengaruhnya terhadap Profitabilitas pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Bandung. Bandung: Indonesian Germany Institute.

Review Bank dan Pasar Modal sebagai Lembaga Keuangan

Pada review saya kali ini tentang mata kuliah Bank dan lembaga keuangan 2, saya akan membahas tentang Bank sebagai perantara keuangan serta Pasar Modal yang menjadi pilihan sebagai orang untuk sumber pendanaan atau memperbanyak kekayaan. Sebelum membahas lebih jauh, kita akan berbicara dulu tentang definisi bank itu sendiri. Bank adalah suatu lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan disalurkan lagi ke masyarakat dalam bentuk aset keuangan lain, misalnya kredit, surat berharga, giro dan aktiva produktif lainnya.

Bank sebagai lembaga perantara keuangan yang dimaksud adalah bank dipercaya sebagai lembaga yang dapat menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito dan dana yang sudah terkumpul tersebut akan disalurkan lagi oleh bank untuk masyarakat yang ingin meminjam uang dengan alasan yang beragam. Berikut skema Bank dalam menghimpun dana dan menyalurkannya lagi kepada masyarakat :

1

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa orang mau menabung di bank padahal banyak yang dilakukan seseorang jika ingin menyimpan uang, contoh : dengan cara menyimpannya dirumah dengan brankas atau dimasukan kedalam wadah lain. Untuk menjawab pertanyaan diatas, maka saya akan menjelaskan alasan mengapa orang ingin menabung di Bank.

Alasan Seseorang ingin menaruh uangnya atau menabung di bank :

  1. Interest (Bunga)

= Naluri Manusia jika kita sebagai manusia ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan meminimalisasi resiko yang diakibatkan dari pilihan yang kita pilih. Begitu juga dengan seseorang menabung di bank. Karena bank menjanjikan bunga yang dianggap sebagian orang menguntungkan dan dapat menambah kekayaan orang tersebut, maka sebagian orang pun memanfaatkan kesempatan tersebut.

  1. Risk (Resiko)

= Sama halnya dengan pengertian diatas, manusia ingin meminimalisasi resiko yang didapatkan jika memilih suatu pilihan tersebut. Maka, Bank adalah tempat untuk menmindahkan resiko yang akan kita terima jika kita menyimpan uang dirumah. Yang dimaksud memindahkan resiko atau yang disebut juga dengan Transfer of Risk akan diilustrasikan sebagai berikut : Jika Seseorang bernama Mawar mempunyai uang sebesar Rp 100 juta, maka akan terlalu beresiko jika ia menyimpannya didalam rumah. Bisa saja terjadi kebakaran atau pencurian yang jika itu terjadi maka dia akan merugi, sedangkan jika ia menyimpan uangnya di bank, maka bank akan menjamin keamanan dan keberadaan uang tersebut sehingga disitulah Mawar akan merasa dia selalu memiliki uang 100 juta rupiah tersebut tanpa takut kehilangan sepeserpun.

  1. Investasi (Investment)

= untuk sebagian orang yang merasa sudah menggunakan uang yang ia miliki untuk berkonsumsi, berbelanja barang-barang sekunder dan tersier serta menyediakan uang untuk ada kejadian yang tidak terduga, maka ia akan berpikir untuk menimbun kekayaannya untuk keberlangsungan hidup di masa depan. Maka Investasi  di bank dipilih sebagian orang dengan cara melakukan Deposito, Reksadana dan Product Investasi lainnya yang ada di bank.

 

Selain menabung, Bank juga mempunyai fungsi untuk meminjamkan uang ke masyarakat demi keberlangsungan investasi yang dimiliki masyarakat. Berikut alasan mengapa orang mau meminjam uang  di bank :

  1. Investasi (+Capital)

= investasi yang dimaksudkan adalah mendapatkan tambahan dana untuk memajukan usaha yang sedang dijalankan atau disebut juga Ekspansi. Hal tersebut menjadikan perusahaan tersebut mempunyai tambahan capital untuk modal operasi perusahaan.

  1. Menambah kapasitas / Cash flow

= jika mendapatkan tambahan dana dari bank dalam bentuk hutang, maka perusahaan cenderung akan menambah pembelian produk ekspansi serta memperbanyak kapasitas produksi, serta menambah pemasukan kas.

  1. Trusted

= bank adalah lembaga yang terpercaya, maka banyak orang yang ingin meminimalisasi resiko dengan mengajukan pinjaman ke bank.

  1. Ketersediaan Dana

= karena bank adalah lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat, maka dana yang dimiliki suatu bank terbilang banyak, dan ini yang mendasari bank tersebut disebut lembaga yang memiliki ketersediaan dana yang cukup. Dana dan kepercayaan adalah double coincidence yaitu variable yang saling berkaitan yang harus ada dalam suatu lembaga yang meminjamkan uang.

Pada kenyaataannya, bank juga walaupun hanya sebagai perantara keuangan tapi bnk itu juga ingin mengambil keuntungan dari proses keuangan tersebut. Peristiwa ini disebut Interest Spread. Interest Spread adalah keuntungan yang diambil dari selisih bunga kredit dengan bunga menabung. Berikut rumus Interest Spread : i2>i3>i2

Setelah membahas bank sebagai lembaga perantara keuangan yang dianggap sudah cukup memberikan keuntungan bagi nasabah yang menyimpan dana dan orang yang meminjam uang, beberapa orang malah berpikir untuk meningkatkan kekayaannya bukan hanya dengan berinvestasi di bank, namun Berinvestasi di Pasar Modal.

 

Berikut ilustrasi dalam berinvestasi di Pasar Modal, jika Perusahaan A ingin meminjamkan uang kepada perusahaan B tanpa melalui bank, maka produk untuk investasi adalah saham dan obligasi. Pada pilihan pertama, Perusahaan B menawarkan investasi dalam bentuk obligasi dalam bentuk obligasi yang sudah didiskonto. Yang dimaksudkan obligasi yang sudah didiskonto adalah obligasi yang ditawarkan oleh perusahaan B kepada perusahaan A dengan harga Rp 10.000.0000 dengan bunga 10% namun didiskonto oleh perusahaan B sebesar Rp 500.000, maka harga obligasi yang tetap Rp 10.000.000 yang berbunga 10%, namun perusahaan A hanya membeli sebesar Rp 9.500.000.

Pada pilihan kedua, perusahaan B menawarkan investasi yang menjanjikan kepemilikan terhadap perusahaan A, investasi dalam saham perusahaan B. Pada opsi ini, perusahaan B menjanjikan dividen yang akan diberikan kepada perusahaan A. Dividen yang dijanjikan oleh perusahaan terkadang tidak sesuai yang diharapkan, baik oleh pemilik perusahaan maupun manajemen itu sendiri. Kejadian tersebut menimbulkan konflik kepentingan antara manajemen dengan pemilik usaha yang sering disebut juga Contingency Theory.

Berikut skema dari kegiatan Perusahaan A dan Perusahaan B :

2

Berbicara tentang berinvestasi pada pasar modal, Perusahaan A dan perusahaan B termasuk komponen dari pasar modal. Misal perusahaan A akan membeli saham  perusahaan B pada tanggal 26 juni jam 11.00 sebesar Rp 10.000/lembar. Namun pada saat hari yang sama pada jam 14.00 sebesar Rp 11.000/lembar. Kejadian tersebut menimbulkan Capital Gain (Short Selling). Namun, keuntungan tersebut belum real didapatkan. Namun keesokan harinya, pada jam 16.00 terjadi penurunan sebesar Rp 9500/lembar. Dan turun kembali keesokan harinya sebesar Rp 9200/lembar. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kerugian terhadap pembelian saham (Capital loss). Maka diperlukan seorang analysis pada perusahaan A untuk memperkirakan kapan perusahaan A harus membeli dan menjual saham perusahaan B tersebut.

Review kelima Jurnal mengenai Internet Banking di Indonesia (Bank & Lembaga Keuangan)

Berbicara mengenai Internet Banking, tentu sudah akrab ditelinga masyarakat perkotaan di Indonesia, khususnya Jakarta. Masyarakat perkotaan umumnya ingin bertransaksi dengan cepat, tanpa harus mengantri berjam-jam di bank. Seiring berkembangnya ilmu teknologi, timbulah suatu inovasi yang dinamakan Internet Banking. Internet Banking menjawab kebutuhan manusia untuk melakukan transaksi dengan cepat, aman, bisa dilakukan dimana saja & kapan saja, tanpa harus mengantri lama-lama di Bank.

Berikut Definisi Internet Banking menurut Para Ahli :

Menurut Standard Bank (2001) di dalam Yusnaini (2010), bahwa Internet banking merupakan jasa perbankan jarak jauh yang ditawarkan kepada pelanggan personal bank untuk melakukan transaksi perbankan rutin melalui internet.

Menurut Cheung (2001) didalam Yusnaini (2010), Internet Banking merupakan suatu sistem yang memungkinkan nasabah bank untuk mengakses rekening dan informasi umum produk dan jasa suatu bank melalui Personal Computer (PC) dan alat pandai lainnya

Menurut Herington & Weaven (2007) didalam Yusnaini (2010), internet banking adalah bentuk e-layanan di mana pelanggan dapat belajar langsung antara elektronik dan layanan pelanggan dan hal ini secara signifikan dipengaruhi oleh kinerja pelanggan.

Menurut Bassel Commitee (2003) didalam Sugiarto (2012) mendefinisikan e-banking adalah penyediaan jasa perbankan pada sektor retail dan skala kecil melalui saluran elektronik.

Menurut Lin et al,, (2005) didalam Sugiarto (2012), menyatakan bahwa Internet banking adalah  Penyediaan jasa ini dirasakan memberikan manfaat/ keuntungan baik bagi bank maupun nasabahnya, dalam hal efisiensi biaya.

 

Setelah diciptakannya Internet Banking, manfaat dan keuntungannya mulai terasa terhadap nasabah yang menggunakan layanan tersebut. Berikut manfaat dan keuntungan menggunakan Internet Banking :

  1. Transaksi dapat dilakukan dengan cepat dan aman
  2. Dapat melakukan transaksi dimana saja dan kapan saja selama terkoneksi oleh jaringan internet.
  3. Dapat mengawasi aktivitas perbankan yang kita lakukan, seperti cek saldo dan mutasi uang yang ada pada rekening kita.
  4. Dapat melakukan tarik tunai pada ATM, tanpa harus ke bank melalui Teller
  5. Dapat melakukan pembayaran tagihan, seperti membayar tagihan listrik, air, telepon dan pembayaran tagihan lainnya.

 

Seperti dikatakan diatas bahwa internet banking sangat dibutuhkan oleh nasabah dalam mempermudah transaksi mereka, pada akhirnya jika internet telah menjawab kebutuhan tersebut, maka akan terciptanya kepuasaan pelanggan terhadap inovasi tersebut. Dan pertanyaan yang timbul adalah seberapa besarkah kepuasaan yang didapatkan pelanggan dari layanan internet banking tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukanlah Penelitian oleh Emmy Supariyani yang berjudul “Analisis Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasaan Pelanggan, Studi Kasus Pelayanan Internet Banking (Klik BCA). Pada penelitian tersebut tahun 2008, beliau membuktikan bahwa Pelayanan Internet Banking memberikan Pengaruh terhadap Kepuasaan Pelanggan secara signifikan sebesar 10%, serta penelitian ini juga menjelaskan bahwa adanya korelasi sebesar r = 0.436 terhadap pada kualitas pelayanan internet banking terhadap kepuasaan pelanggan. Artinya, adanya keeratan hubungan yang sedang dan positif antara kualitas pelayanan Internet Banking dengan kepuasaan pelanggan (nasabah) PT.BCA.

Tidak selamanya Indikator kepuasaan Pelanggan yang dinilai baik menjadi acuan bahwa pelaksanaan internet banking itu sendiri sudah berhasil. Hal terpenting dari sebuah inovasi adalah loyalitas pengguna terhadap fasilitas itu sendiri. Penelitian yang di tulis oleh Yusnaini dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Kualitas Pelayanan Internet Banking Terhadap Kepuasaan dan Loyalitas Konsumen pada Bank Swasta” ingin membuktikan kepuasaan dan loyalitas nasabah itu sendiri dalam menggunakan layanan Internet Banking. Pada penelitian ini juga membuktikan bahwa kualitas pelayanan Internet Banking juga mempengaruhi kepuasaan nasabah serta loyalitasnya terhadap penggunaan internet banking dan loyalitasnya terhadap bank tersebut. Pada penelitian ini juga menjelaskan bahwa kepuasaan pelanggan dan loyalitasnya dipengaruhi oleh Kualitas layanan pada bank, kualitas produk layanan yang ditawarkan ke nasabah dll.

Setelah membahas internet banking dan pengaruhnya terhadap kepuasaan pelanggan, saya akan membahas indicator apa saja yang dipertimbangkan masyarakat dalam penggunaan internet banking itu sendiri. Hal tersebut dibuktikan dan diuraikan oleh Irmadhani dan Mahendra Adhi Nugroho dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Penggunaan dan Computer Self Efficacy, terhadap Penggunaan Online Banking pada Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta”. Pada Penelitian ini, peneliti menjelaskan bahwa indicator Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Penggunaan dan Computer Self Efficacy dapat juga mempengaruhi Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta dalam menggunakan Internet Banking itu sendiri. Hasil Penelitian tersebut menunjukan bahwa Pengaruh Persepsi Kebermanfaatandan Computer Self Efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan mahasiswa menggunakan internet banking, sedangkan Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan berpengaruh positif, namun tidak signifikan. Artinya, Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta merasa indicator kebermanfaatan dan Computer Self Efficacy sangat mempengaruhi mereka dalam menggunakan internet banking, sebab manfaat dan kepercayaan bahwa internet banking dapat memudahkan semua transaksi yang dibutuhkan oleh nasabah. Namun, justru Persepsi Kemudahan Penggunaan dinilai tidak berpengaruh signifikan sebab penggunaan terhadap layanan tersebut tergolong masih susah diaplikasikan. Untuk hal tersebut, perlu adanya sosialisasi lebih dari bank itu sendiri.

Ternyata Manfaat Internet Banking tidak hanya berhubungan tentang kepuasaan nasabah saja, namun mempunyai peranan penting terhadap suatu perusahaan atau perbankan itu sendiri. Pernyataan tersebut dibuktikan oleh Agung Sugiarto dalam Penelitiannya “Adopsi Internet Banking bagi Keunggulan Performa Perbankan : Sebuah Studi Pada Sektor Perbankan di Indonesia.” Pada penelitian ini menjelaskan bahwa adanya pengaruh adopsi internet banking itu sendiri terhadap keunggulan performa perbankan di Indonesia. Penelitian ini mengambil data berupa laporan keuangan yang terdapat pada Bursa Efek Indonesia. Hasil Penelitian membuktikan bahwa Adopsi Internet Bankingpada 20 bank yang dijadikan sampel terhadap performa perbankan di Indonesia memiliki pengaruh negative, namun tidak signifikan. Artinya, internet banking belum mempengaruhi performa perusahaan secara besar. Hal ini diakibatkan oleh tingkat penetrasi pasar atas internet banking yang tidak terlalu besar, sehingga internet banking pun belum dapat menjangkau seluruh nasabah yang ada.

Internet banking mempunyai peranan penting terhadap suatu bank atau lembaga non bank, bahkan dapat dibandingkan antara internet banking yang dilakukan oleh suatu bank dan lembaga keuangan lain. Pernyataan diatas dibuktikan oleh Ana Dwi Pertiwi dan Dr.Ir.Budi Hermana dalam penelitiannya yang berjudul “Comparing Internet Financial Reporting Index Between Bank and Non Bank in Indonesia”. Objek penelitian tersebut diambil dari 34 institusi keuangan yang terdiri dari 25 bank dan 9 lembaga keuangan bukan bank. Penelitian ini menyoroti tentang apakah semua bank menggunakan Internet Banking dalam Pelaporan Keuangan mereka. Hasil dari penelitian tersebut semua sampel memiliki Website dan menyebarluaskan laporan keuangan mereka serta adanya perbedaan indeks pelaporan keuangan menggunakan internet antara bank dan lembaga keuangan non bank di Indonesia. Perbedaan indeks tersebut didapatkan dari hasil perhitungan t independent sampel.

Rangkuman Review Jurnal:

Dari empat dari lima jurnal yang sudah saya review diatas, variable yang banyak digunakan adalah Intenet banking dan Pengaruhnya terhadap kepuasaan pelanggan. Bahwa ternyata keempat jurnal tersebut secara langsung mauun tidak langsung, ikut menyoroti pengaruh internet terhadap kepuasaan dan perilaku pelanggannya. Jurnal ini juga sekaligus ingin mengetahui tanggapan masyarakat terhadap internet banking dan apa yang harus dilkukan oleh bank itu sendiri agar terus meningkatkan dan terus melakukan sosialisasi terhadap penggunaan Internet Banking itu sendiri. Sedangkan untuk metode analisis yang digunakan oleh kelima jurnal tersebut adalah Analisis Regresi Linier Berganda yang menyatakan satu variable dependen dan banyak variable independen. Teknik analisis yang digunakan kelima jurnal tersebut sebagian besar menggunakan sampel uji t, korelasi product moment person, dan rumus Alpha Cronbach.

Daftar Pustaka

Supriyani, Emi & Tony. (2008). Analisis Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan. Jurnal Ilmiah RanggaGading Volume 8 N0.1, April 2008 : 37-43

Adhi, Mahendra Nugroho & Irmadhani. (2012). Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Penggunaan dan Computer Self Efficacy terhadap Penggunaan Online Banking pada Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal Universitas Yogyakarta Vol.1 No.3

Dwi, Ana Pertiwi & Dr.Ir. Budi Hermana. (2013). Comparing Internet Financial Reporting Index Between Bank and Non Bank in Indonesia. Journal Internet Banking and Commerce, August 2013, Vol.18, No.2.

Yusniani. (2010). Pengaruh Kualitas Pelayanan Internet Banking terhadap Kepuasaan dan Loyalitas Konsume pada Bank Swasta. Jurnal Dinamika Akuntansi Vol.2 No.1 Maret 2010, 1-9

Sugiarto, Agung. (2012). Adopsi Internet Banking bagi Keunggulan Performa Perbankan : Sebuah Studi pada Sektor Perbankan di Indonesia. Jurnal Dinamika Akuntansi Vol 4, No.1, Maret 2012, pp. 13-19

http://barutau.com/manfaat-internet-banking.html

 

Penilaian EARNING POWER pada CAMELS Rating System

(Review Pertemuan Ke -4 mengenai Analisis Laporan keuangan)

Earning Power (E) merupakan salah satu komponen pada system penilaian kesehatan bank berdasarkan tatacara CAMELS tahun 2004 maupun RGEC tahun 2011.

Berikut adalah beberapa komponen penilaian earning power:

(Data diambil dari Laporan Keuangan Triwulan- Neraca dan Laba/Rugi, PT BANK XXX per Desember 2012) – #Dalam Jutaan Rupiah#

Image

Image

METODE PERHITUNGAN BIAYA DANA BANK (

(Review Pertemuan Ke 3 Bank dan lembaga keuangan )

Biaya dana adalah biaya yang harus dibayar oleh suatu lembaga keuangan atau bank atas penggunaan uang yang sumbernya dari pihak lain (nasabah dan/ atau bank) Biaya dana dalam suatu bank merupakan dasar penetapan suku bunga kredit  setelah memperhitungkan keuntungan yag diharapkan termasuk biaya admisnistrasi dan biaya lain-lain (cost of fund).

Berikut empat metode yang dapat digunakan dalam menghitung biaya dana bank :

(Data diambil dari Laporan Keuangan Triwulan- Neraca dan Laba/Rugi, PT BANK XXX per Desember 2012) – #Dalam Jutaan Rupiah#

Image

Image

Image

Image

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dan Penggabungan Usaha Bank (Review Pertemuan Ke 3)

Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas mengenai penilaian kesehatan bank dan penggabungan usaha bank. Berbicara mengenai penilaian tingkat kesehatan bank, terlebih dahulu saya akan membahas mengenai definisi tingkat kesehatan bank.  Definisi Tingkat Kesehatan Bank menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu Bank melalui Penilaian Kuantitatif dan atau Penilaian Kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabiitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar.  Menelisik mengenai definisi Tingkat Kesehatan Bank, maka pasti yang ada dalam benak kita adalah “Bagaimana Cara Mengetahui Tingkat Kesehatan Suatu Bank?” dan “Aspek-aspek apa saja yang menentukan Tingkat Kesehatan Suatu Bank?”.

Menjawab pertanyaan pada alinea sebelumnya, cara kita mengetahui tingkat kesehatan suatu bank adalah dengan melakukan penilaian terhadap suatu bank dengan menggunakan faktor-faktor dibawah ini:

1. Permodalan (capital);

  • meliputi kecukupan, komposisi, dan proyeksi (trend ke depan) permodalan serta kemampuan permodalan Bank dalam mengcover assets bermasalah.Kemampuan Bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan, rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha, akses kepada sumber permodalan, dan kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan bank.

2. Kualitas aset (Assets quality);Kualitas aktiva produktif,

  • konsentrasi eskposur risiko kredit, perkembangan aktiva bermasalah, dan kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP).
  • Kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem kaji ulang (review) internal, sistem dokumentasi dan kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.

3. Manajemen (management);

  • Kualitas manajemen umum dan penerapan manajemen risiko;
  • Kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku dan komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.

4. Rentabilitas (earnings);

  • Pencapaian return on assets (ROA), return on equity (ROE), net interest margin (NIM), dan tingkat efisiensi Bank;
  • Perkembangan laba operasional, diversifikasi pendapatan, penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya, dan prospek laba operasional.

5. Likuiditas (liquidity); dan

  • Rasio aktiva/pasiva likuid, potensi maturity mismatch, kondisi Loan to Deposit Ratio (LDR), proyeksi cash flow, dan konsentrasi pendanaan;
  • Kecukupan kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management/ ALMA), akses pada sumber pendanaan, dan stabilitas pendanaan.

6. Sensivitas terhadap risiko pasar (sensitivity to market risk)

  • Kemampuan modal bank dalam mengcover potensi kerugian sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga dan nilai tukar;
  • Kecukupan penerapan manajemen risiko pasar.

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Pasal 4, Aspek-aspek yang sudah tercantum diatas adalah aspek-aspek yang harus dilakukan suatu instansi/lembaga independen dalam menilai tingkat kesehatan bank. BI mendesain tata cara penilaian bank umum menjadi RGEC dan tetapkan dalam SK No. 6/10/PBI/2004.

CAMELS vs RGEC

Pada kebijakan BI sebelumnya, cara penilaian kesehatan bank menggunakan metoda CAMELS (Capital, Asset Quality, Management, Earning Power, Liquidity, dan Sensitive to Market Risk). Metode CAMELS itu sendiri pertama kali diperkenalkan pada tanggal 12 April 2004, dan kemudian digantikan oleh cara penilaian tingkat kesehatan bank umum yang baru, yaitu RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance (GCG), Earnings, dan Capital. Model ini mewajibkan Bank Umum untuk melakukan Penilaian (Self assesment) Tingkat Kesehatan Bank itu sendiri dengan menggunakan pendekatan Risiko (Risk-Based Bank Rating/RBBR) baik secara individual maupun konsolidasi.

Dari kedua versi metode cara penilaian tingkat kesehatan bank umum, maka kita akan mendapatkan perbedaan yang cukup signifikan adalah dari tata cara penilaian predikat 1 sampai predikat 5 untuk tingkat kesehatan bank itu sendiri. Sekedar info, Peringkat 1 adalah Peringkat yang paling baik yang disematkan kepada bank umum yang menunjukan bahwa bank tersebut sangat sehat. Sedangkan, Peringkat 5 adalah peringkat yang paling buruk dalam segi kesehatan bank umumnya.  Berikut gambar dibawah ini yang menjelaskan bagaimana RGEC menilai Tingkat Kesehatan Bank Umum :

Image

Tabel ini menjelaskan bahwa walaupun sebuah perusahaan memiliki resiko investasi sangat kecil tapi tidak ada penanganan dari resiko investasi maka kualitas penerapan manajemen resikonya menjadi besar, yaitu menempati urutan peringkat ke 3. Sebaliknya, bila sebuah perusahaan memiliki resiko investasi yang cukup tinggi namun manajemen terhadap penanganan resiko tersebut sangat baik, maka akan menurunkan resiko dari peringkat 5 menjadi peringkat 3.

Penggabungan Bank.

Terkadang suatu bank mengalami masalah-masalah keuangan yang membuat bank tersebut harus melikuidasi aset yang dimilikinya dan menyebabkan kerugian bagi bank tersebut. Namun, bank yang bisa dikatakan pailit sekalipun, tidak dapat langsung menutup bank tersebut seperti suatu perusahaan perseroan, karena bank adalah lembaga yang dipercaya menghimpun dana masyarakat. Jadi harus ada prosedur untuk membuat bank tersebut sehat kembali, yaitu dengan cara menggabungkan suatu bank dengan bank lain.

Jenis-jenis penggabungan suatu bank yang dapat dilakukan di Indonesia :

  1. Merger

Merger adalah penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu bank yang ikut merger dan membubarkan bank-bank lainnya tanpa melikuidasinya terlebih dahulu. Sistem Merger ini dilakukan dengan cara menggabungkan seluruh saham bank lainnya yang ikut bergabung menjadi satu dengan saham bank yang dipilih untuk dipertahankan. Berikut contoh bank yang melakukan sistem merger : misalkan suatu bank bernama Pandawa akan melakukan merger dengan Bank Mawar, mereka akhirnya menyepakati bahwa bank mawar melebur dan berganti nama bank pandawa

  1. Konsolidasi

adalah penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara mendirikan bank baru dan membubarkan bank-bank yang ikut konsolidasi tersebut tanpa melikuidasi terlebih dahulu. Sistem Konsolidasi mmenjadikan suatu bank dengan nama baru dan juga hanya memiliki satu saham dengan nama bank yang baru tersebut. Berikut ini bank yang melakukan konsolidasi : misalkan Bank Pandawa yang tadi disebutkan disaat akan melakukan konsolidasi dengan Bank Mawar, maka mereka akan bergabung dan mengganti nama bank yang telah mereka sepakati yaitu Bank Teguh Sejahtera.

  1. Akuisisi

Merupakan pengambilalihan kepemilikan suatu bank yang berakibat beralihnya pengendalian terhadap bank. Sistem Akuisisi biasanya tidak mengubah nama dari bank yang diakuisisinya, hanya merubah kepemilikan dari bank tersebut. Berikut contoh bank yang melakukan akuisisi : misalkan Bank Pandawa melakukan akuisisi dengan Bank Mawar maka Bank Pandawa tidak akan mengubah nama banknya dan kepemilikan sahamnya, namun kepemilikan Bank Mawar akan berpindah ke Bank Pandawa.

Sumber :

  • Surat Edaran Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/PBI/2004 Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum
  • Buku Dasar-Dasar Perbankan